PaAAnAAAsSS!!!! PaANAAssSS!!! Orang-orang pasti pada kabur dengar jeritan saya ini, untungnya saya sudah sampai rumah, klo tidak orang2 di sepanjang jalan sudah habis saya maki-maki..ngeri yah keliatannya? Makanya rumah menjadi tempat yang paling nyaman buat saya saat ini, slnya dari pagi sampai siang ini, saya sudah matang (gosong malah) gara-gara dijemur kayak pakaian basah, masih bagus kalau menghasilkan warna hitam eksotis, lah ini, masih bagusan ayam gosong kalau mau dibandingin sama kulit saya yang tadinya seputih salju dan sekarang sehitam kopi, hikz hikz..
bumikepanasan.jpg image by fiona_angelina
Begitulah nasib orang baik, harus rela mengorbankan apa yang patut dikorbankan, sama seperti saya yang mengorbankan kulit saya untuk menolong teman-teman kelas sebelah waktu upacara tadi pagi. Matahari baru terbit sehingga memancarkan cahayanya ke arah kelompok penyanyi, bukan hanya cahayanya yang dipancarkan, panasnya pun ikut-ikutan dan itulah yang menyebabkan saya gila setengah mati saat menyanyikan lagu Indonesia Raya. Sebenarnya kelas kami sudah bertugas dalam upacara minggu lalu jadi penderitaan kami para penyanyi lagu kebangsaan dari sudut lapangan yang menjadi pemasok terbanyak panas matahari sudah berlalu. Tapi... seperti yang sebelumnya saya tulis, kami itu adalah orang2 yang sangat baik, mau membantu teman-teman kelas sebelah untuk membawakan lagu Indonesia Raya.

Sayangnya saya mendapat lokasi berdiri yang kurang baik, tapi sangat strategis bagi matahari untuk memanggang saya habis-habisan. Alhasil saya haru merelakan sebagian wajah saya menjadi kemerah-merahan dan tinggal menunggu waktu untuk menghitam. Padahal butuh bertahun-tahun untuk memutihkan kulit saya kembali..Oh NO.!!


Thank You God, karena saya bisa berada di kelas saat itu, setelah upacara pastinya. Sebenarnya hari ini saya nggak sial2 amat. Soalnya ujian Fisika tadi boleh dibilang sukses untuk otak seukuran otak saya, atau mungkin soalnya yang kelewat gampang tapi Thanks God lagi karena saya g' harus berhari-hari di depan papan tulis untuk mengerjakannya. Metode guru Fisika yang satu ini emang terbilang unik.. pemberian materinya boleh dibilang cepat trus bulan yang tersisa untuk memberikan materi menjadi bulan terburuk dalam sejarah pendidikan kami. Kami harus menjawab soal-soal sehubungan dengan materi, masih untung kalo di meja, lah ini, di depan kelas, satu-satu lagi (jadi g' bisa noleh-noleh kanan kiri), nulisnya di papan tulis, cakarnya di papan tulis juga, jadi keliatan deh mana yang ngerti pelajarannya mana yang sok ngerti sambil ngangguk-nganggukin kepala aja... Untuk saat ini, tahap pertama sukses dijalani.. tinggal menunggu soal-soal mengerikan selanjutnya..


Kenyaaang (ketahuan saya ngetik sambil makan), tapi sekarang saya haus, tunggu ya saya minum dulu..........................


akhirnya tangan dan mata saya sudah bisa fokus pada keyboard dan layar monitor, tinggal mulut aja yang masih komat-kamit seperti saat makan. Masih tertarik baca cerita saya.. lanjut deh kalo gitu,


Habis jam istirahat, kami pergi ke lab komputer untuk melanjutkan praktek ngeblog. Saya yang boleh dibilang kecepatan ngurus blog saya, dengan senang hati-yang benar- membantu teman2 lain yang agak agak mengalami kesulitan dalam mengurus blognya. Tapi sorry yah buat re**i soalnya saya belum nyelesein blognya soalnya bel keburu berdering, sorry, sorry, sorry...
Pelajaran bahasa Indonesia, cuma ngerjain soal-soal aja, dan ketika bel pulang sekolah berdering, hal yang paling saya nanti2kan berubah menjadi hal yang saya tidak ingin jalani.. PULANG. Siapa sih yang nggak pengen pulang ke rumah, saya bukannya ada masalah dengan orang tua, tapi sekali lagi dengan benda langit terpanas di galaksi bimasakti, apalagi kalau bukan MATAHARI.


Sekali lagi saya menjadi manusia panggang tapi bukan berdiri lagi tapi berjalan. Dan cuaca seburuk itu membuat saya sangat merindukan rumah, untungnya hanya jendela rumah saya yang terbuat dari kaca, kalau semuanya terbuat dari kaca? saya tidak akan pulang-pulang ke rumah lagi. Mungkin penderitaan saya menuju rumah tidak akan separah ini, kalau keadaan kota saya masih seperti dulu, masih banyak pohon-pohon untuk jadi tempat bernaung di sepanjang perjalanan. Sayangnya hanya satu dua pohon yang saya jumpai di sepanjang perjalanan, dan tanaman pagar tidak mungkin untuk menaungi saya dan pejalan kaki lainnya (ya iyalah).
 
Alhasil saya jadi menyesal sendiri karena berkurangnya pohon-pohon di muka bumi. Mulai sekarang saya akan mulai menghargai si hijau itu, mudah2an  pengalaman saya yang pernah dipanggang ini menjadi pelajaran nggak hanya buat saya tapi kalian yg baca..(jgn hanya melototin posting ini aja). semoga apa yang kita harapkan yaitu agar bumi ini kembali hijau dapat tercapai..soalnya saya nggak mau maki-maki orang yang minta tolong nunjukin jalan saking kepanasan lagi(kasian banget yah tuh orang)..


Sekian dulu untuk hari ini.. kalau otak saya sudah segar kembali pasti saya postingin yang seru-seru.. selamat membaca....