
Alhasil saya jadi menyesal sendiri karena berkurangnya pohon-pohon di muka bumi. Mulai sekarang saya akan mulai menghargai si hijau itu, mudah2an pengalaman saya yang pernah dipanggang ini menjadi pelajaran nggak hanya buat saya tapi kalian yg baca..(jgn hanya melototin posting ini aja). semoga apa yang kita harapkan yaitu agar bumi ini kembali hijau dapat tercapai..soalnya saya nggak mau maki-maki orang yang minta tolong nunjukin jalan saking kepanasan lagi(kasian banget yah tuh orang)..

Film Pendidikan Menyebarkan Virus Guru Kreatif

Film School of Life yang menceritakan guru muda kreatif Mr D (Ryan Reynolds) dan guru Biologi bernama Matt Warner (David Paymer) memukau sejumlah mahasiswa, guru, dan dosen dalam diskusi dan pemutaran film pendidikan di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rabu (10/5).
Mr D bukan sembarang guru. Ia muda, ganteng, pakaiannya sangat kasual dengan sepatu sport warna merah, menguasai bahasa gaul dan bisa menyelami pikiran remaja masa kini. Ia mengajarkan sejarah di sebuah kota kecil di Amerika Serikat.
Mr D tidak hanya mengajarkan sejarah dalam buku teks, juga membuat pelajaran begitu hidup dan memesona. Ia tidak hanya populer di kalangan muridnya, tapi juga di hati kawan-kawan gurunya, kecuali Matt.
Popularitas Mr D tidak hanya membuat Matt cemburu, tetapi juga jengkel. Matt terobsesi untuk jadi "Teacher of the Year" yang diperoleh almarhum ayahnya, Stormin’ Norman, selama 43 tahun berturut-turut. Kehadiran Mr D yang mengajar dengan cara inkonvensional menjadi penghalang peluang Matt.
"Tapi ada enggak sih guru yang punya waktu untuk menyembunyikan tulang malam- malam untuk digali dengan murid-murid keesokan harinya?" kata Hera yang masih kuliah di Fakultas Ekonomi UNJ.
Hera lebih lanjut mengatakan, sebagai calon guru ia dituntut untuk mengajar secara kreatif. Akan tetapi, menurut Hera, ia tidak dididik menjadi kreatif bahkan tidak mengalami pendidikan yang kreatif. Guru kreatif tampaknya tidak banyak.
Itu yang dibantah oleh Retno Listyarti, guru Pendidikan Kewarganegaraan dari SMA Negeri 13 Jakarta Utara. "Guru kreatif di Indonesia banyak tetapi banyak yang tidak muncul di media massa," kata Retno.
Suparman, guru Sejarah di SMA Negeri 17 Jakarta, juga mencoba untuk mengajar secara kreatif. Ketika ia masih di SMA Negeri 8, ia meminta muridnya membuat dan mempresentasikan silsilah keluarga, meminta mereka menuliskan sejarahnya sendiri dalam buku harian, dan mengajarkan tokoh-tokoh sejarah dari berbagai belahan bumi. Ia bahkan mencoba menarik minat murid-muridnya terhadap sejarah dengan membaca buku Winnetou karya Karl May.
"Memang saya tidak terlalu kreatif. Kadang-kadang tiga-empat semester kebingungan harus berbuat apa lagi. Kreativitas juga ditentukan oleh struktur. Guru yang mencoba kreatif dengan mengajak anak-anaknya ke museum, justru di larang dan bisa- bisa dituduh menjadi biang kegagalan anak-anak menempuh ujian nasional," kata Suparman.
Soal membuat sejarah menjadi hidup dengan membuat drama ala Mr D sudah pernah ditetarapkan di Indonesia ketika ada mata pelajaran Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB). Eksperimen itu gagal karena pelajaran itu terlalu doktriner, tidak memberikan ruang kebebasan berpikir bagi anak.
Menjadikan murid menjadi anak yang kritis, kreatif, dan inovatif juga sudah diangkat menjadi tujuan pendidikan nasional, tapi sampai kini tetap jadi slogan.
Kreativitas, kata Ketua Jurusan Psikologi Pendidikan UNJ, Evita, memang perlu memberikan peluang untuk berbuat dan berpikir secara berbeda. "Harus ada rasa aman dan kebebasan secara psikologis," katanya.
Untuk menjadi guru kreatif, menurut Lodi Paat—dosen Ilmu Pendidikan UNJ, guru memang harus menguasai komunikasi, kemampuan mengeksplorasi mata pelajaran, dan bisa menarik perhatian anak.
Sementara menurut Jimmy Paat, yang juga dosen UNJ, untuk dapat berkomunikasi dan menyelami jiwa anak dan remaja, guru perlu dibekali pengetahuan tentang budaya anak muda. Ini yang belum tersentuh di lembaga-lembaga pendidikan guru di Indonesia.
Guru kreatif memang tak bisa dikloning. Tidak ada metode atau resep tunggal untuk menjadi guru kreatif. Namun, guru kreatif hanya akan muncul apabila ada lingkungan untuk mendorong kelahirannya.
Virus kreativitas dalam mengajar bisa disebarkan di sekolah, di organisasi-organisasi guru, atau lembaga pendidikan guru. Film School of Life memberikan inspirasi tentang pentingnya kreativitas mengajar, memberikan ruang kepada guru dan murid untuk mengekspresikan jiwanya, jauh lebih penting daripada nilai ujian atau buku teks.
Sekian deh untuk hari ini.. Kalo masih penasaran dengan film School Of Life tinggal tunggu aja yah.. pasti dibahas lengkap deh..
